lingkaranaku cinta padaMU
About this Entry
Posted by: lingkaran

Visit lingkaran's Xanga Site

Original: 4/3/2006 12:44 PM
Views: 88
Comments: 0
eProps: 0

Read Comments
Post a Comment
Back to Your Xanga Site



Monday, April 03, 2006

Sawung Jabo

 
Ini dia musisi yang menolak membawakan lagu-lagu milik penyanyi mancanegara. Bukan lantaran sentimen ras atau ingin melawan kemapanan. “Mereka sudah terkenal, buat apa saya menjadi corong mereka,” tutur Muhammad Johansah alias Sawung Jabo. Dia ini seniman yang suka mengelaborasi alat musik tradisional dan modern.


Nama panggungnya memang lebih terkenal ketimbang nama aslinya. Menurut dia, nama Sawung diberikan oleh Rendra, pemimpin Bengkel Teater, tempatnya pernah bergabung. “Ya dicomot dari legenda Sawung Galing dari Jawa Timur, biar kelihatan aku ini dari Jawa Timur,” terang suami dari Susan Pipper yang berkebangsaan Australia. Sedang Jabo diambil dari hobbo, nama sebuah tari dari Spanyol. “Kalau ini nama pemberian senior saat perploncoan,” ungkap sutradara pementasan Perkampungan Naga itu.

Lahir di Ampel, Surabaya, 4 Mei 1951, orangtuanya bercerai saat ia masih kanak-kanak. Ibunya, yang mengasuh Sawung, mendidik dan memperkenalkannya pada kesenian, terutama tari, seni panggung, dan gamelan. “Ibu sampai mendatangkan guru tari ke rumah untuk mengajariku tari Gatot Kaca. Tapi hobi saya menonton ludruk, bahkan pernah semalam suntuk,” ujar pengagum penyair Khalil Gibran (Lebanon) dan Jalaluddin Rumi (Persia) ini.

Dalam menonton ludruk dari ruang pemain – dan ikut menyantapi makanan mereka-- ia mengakrabi seni panggung Jawa Timur itu. “Saya ikut ke mana pun mereka bermain, terkadang sampai ke luar kota,” ujar jebolan Akademi Musik Indonesia itu.

Ibunya yang single parent itu mengajarinya hidup mandiri. Sejak remaja ia sudah terbiasa berjualan koran di kereta hingga ke Kota Malang. Keliling kampung menjajakan kembang gula dan balon tiup pernah pula ia lakoninya. Jiwa seninya, ia akui, mulai tumbuh di kota kelahirannya, Surabaya. Seni sempat membuatnya larut, sehingga setamat SMP ia tak sekolah selama setahun untuk belajar bermain gitar.

Banyak orang bilang, gaya tarik suara Sawung mirip cara seniman ludruk menyanyikan parikan. Pindah ke Jakarta pada 1968 dan masuk STM jurusan di Poncol, Jakarta Pusat, hobi menyanyinya keterusan. Ia bahkan mulai merintis menjadi penyanyi profesional. Ada kejadian unik saat ia manggung di pesta pernikahan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Lagi asyik-asyiknya melantunkan salah satu lagu kelompok Rolling Stones, seorang penonton naik ke panggung dan mengguyurnya dengan bir. “Aku terus menyanyi, dan ketika turun dari panggung aku pukul kepalanya dengan botol bir kosong,” kenangnya.

Tahun 1970-an, Lapangan Monumen Nasional menjadi tempat berlangsungnya acara tahunan Jakarta Fair. Bermula dari rasa ingin main band di sana, ia nekad memaksa naik panggung dengan dukungan teman-teman gengnya dari Harmoni, Jakarta Pusat. “Kalau pemain rehat, aku manggung menyanyikan lagu-lagu Rolling Stones. Bila panitia minta aku turun, teman-teman preman itu berteriak: Terus! Terus! Terus!” kenang Sawung, tergelak. Panitia pun tak berdaya dan membiarkannya menyanyi saat anak-anak band beristirahat.

Tekadnya menjadi musisi profesional mendorongnya masuk Akademi Musik Indonesia (AMI) di Yogyakarta (1973-1976) -- bermodalkan tiga ijazah fotokopian. Sesampainya di Kampus AMI, pendaftaran belum dibuka. Ia pun menghabiskan waktu dengan mengelilingi Kota Gudeg dengan beban rangsel berisi pakaian di punggungnya. “Tidur di stasiun atau di Malioboro. Setelah pendaftaran dibuka, aku kabari orang di rumah saya sekolah,” kenangnya. Setelah setengah tahun pertama, ia tak lagi meminta kiriman uang.

Lalu bagaimana ia memenuhi kebutuhan hidup dan kuliahnya? Sawung mengamen di kampung-kampung. Tetapi seringkali ia ditolak memberi jasa pengamenan, terutama di tempat-tempat hajatan. Sempat tak mampu membayar uang kos, ia sering tidur di Pasar Gading, dan paginya ia dibangunkan pedagang yang hendak membuka kiosnya. “Bangun pagi, saya langsung ke sekolah dan mandi,” tuturnya.

Selama dua tahun ia mempelajari musik klasik dengan serius. Pada tahun ketiga, Sawung menyimpulkan bahwa belajar musik klasik memerlukan disiplin tinggi, analisa dan pengetahuan tentang filsafat. “Tiap hari saya di perpustakaan dengerin musik Bethoven, Bach, Vivaldi dan lain-lainnya, lalu menganalisa sendiri. Musik klasik bagus dan indah, tapi bukan musik untuk berekspresi,” katanya.



Sejak itu ia tak lagi memainkan musik barat. “Saya berpikir, mereka sudah terkenal dengan lagu-lagu itu, ngapain saya jadi corongnya. Sejelek-jeleknya laguku, lebih baik aku nyanyikan daripada menyayikan lagu orang,” tutur pemeran Jabo Johansyah dalam The Year of Living Dongerously, film berseting G30 S dengan pemeran utama Mel Gibson itu. Selain menciptakan lagu sendiri, ia juga membuat eksperimen aransemen lagu.

Tahun 1976, anggota Kelompok Musisi Kampungan (KPK) ini bergabung dengan kelompok band Sirkus Barok. Kedua kelompok musik sering berkalaborasi. Aksi panggung pemusik yang mahir alat musik selo ini bersama KPK maupun Sirkus Barok terbilang tidak lumrah – mungkin juga aneh. Misalnya, ia menggendong selo di punggungnya, menaruhnya di atas kepala, atau memukul gong dengan kepalanya.

Sawung sangat terkesan dengan kepedulian ibunya pada kaum tak berpunya. “Ibu selalu bilang, bila kamu melihat seorang pengemis dahulukan memberinya sesuatu daripada bilang kasihan,” papar Sawung. Ibunya, ceritanya, sering membeli dagangan yang dilihatnya tidak laku, lalu dibagi-bagikan kepada orang lain. “Bila ditanya, Ibu selalu menjawab: ‘Kasihan orang itu sampai terkantuk-kantuk menunggui jualannya habis,’” kenangnya. Ia pun menjadikan ibunya sebagai idolanya.

Ia bertemu Susan Piper pertama kali pada 1978 di Bengkel Teater, yang dinikahinya pada 8 Desember 1979. Sawung terutama menghargai istrinya yang kelahiran Australia itu karena sifatnya yang pemaaf, selain karena memberi dia kebebasan berkesenian. “Kadang sampai enam bulan aku meninggalkan dia. Kalau dalam hukum agama, hal ini bisa jadi alasan sah untuk bercerai.” Anak-anaknya ikut pula mendukungnya. “Mereka malah bilang, ‘Kami sedih bila kamu di sini tapi tak bisa berbuat apa-apa,” tambah lelaki yang mukim si Sidney, Australia, itu.

Dalam hal anak, Sawung mengaku mendidik mereka dengan cinta sambil memberi kebebasan memilih. Mereka juga menggemari seni; anaknya yang perempuan mampu menari jaipong, sedang Johan, anaknya yang lelaki, mewarisi bakat menulis dari ibunya. “Rendra salah satu penikmat tulisan Johan dan selalu menagih kapan dikirimi tulisan,” tutur Sawung.

Copyright PDAT 2004
 Posted 4/3/2006 12:44 PM - 88 Views - 0 eProps - 0 comments

Give eProps or Post a Comment

Choose Identity
(?)
 
Give eProps (?)
Post a Comment
Add Link | Preview HTML comment help 
  • Say it with Minis! (?)

Profile Pic:
Default  |  Choose »  (?)



Back to lingkaran's Xanga Site!
Note: your comment will appear in lingkaran's local time zone:
GMT -05:00 (Eastern Standard - US, Canada)
<bgsound src="http://www.archive.org/stream/FabianFolklore/FabianFolklore_64kb.m3u">